Senin, 18 April 2016

sinopsis desa lagetang



Legetang, Legenda Ulang Kaum Sodom Gomorah

Suatu malam di pendopo desa Legetang, tepatnya 16 April 1955, suara gemuruh gamelan masih bergema di seluruh penjuru desa diiringi dengan tawa riuh penari Lengger nan genit. Bau arak Jawa, dupa, asap rokok, bersatu bersama celotehan para penonton yang mulai mabuk. Satu per satu hanyut dalam suasana nafsu berjamaah. Tak peduli pria dengan wanita, pria dengan pria, anak atau orang tua, semua lebur berbaur dalam keriuhan libido malam itu.

Bahkan ibu dan anak, atau ayah dan anak sudah tak peduli hanyut menuruti nafsu hewani yang sudah umum dilakukan tiap malam di desa tersebut. Ya, memang hampir tiap malam desa makmur itu menggelar kesenian Lengger dengan penari yang bisa diajak memuaskan birahi. Semakin malam semakin membaur antara suara dengung gong atau lenguhan penari penonton.

Tanpa disadari di luar pendopo dusun, semakin malam rintik hujan turun semakin lebatnya. Namun hal itu tak dirasakan oleh penikmat hiburan karena telah tenggelam dalam hipnotis lidibo yang melenakan itu. Hujan dianggap hanyalah sebuah hujan sebagaimana hujan biasa di malam-malam sebelumnya. Hampir tengah malam lewat hujan mulai reda. Jam menunjukkan pukul 23.00 WIB. Tiba-tiba terdengar suara “BUUUUMMMMM” sedemikian dahsyatnya, seperti suara meteor yang jatuh menghunjam bumi. Gemuruh gamelan dan lenguhan riuh tiba-tiba sirna … sunyi … senyap … hilang tak berbekas … hanya dalam sekejap.

Pagi harinya, 17 April 1955, masyarakat disekitar dukuh Legetang yang penasaran dengan dentuman amat keras itu menyaksikan bahwa puncak Gunung Pengamun-Amun sudah terbelah. Dan belahannya itu utuh menimbun dukuh Legetang. Dukuh Legetang yang tadinya berupa lembah itu bukan hanya rata dengan tanah, tetapi menjadi sebuah gundukan tanah baru menyerupai bukit. Seluruh penduduknya 351 orang mati. Gegerlah kawasan Dieng dan sekitarnya!

Keanehan Gunung Pangamun-Amun



(Peta lokasi tertimbunnya Legetang dan Gunung Pengamun-Amun)
Seandainya gunung Pengamun-Amun sekedar longsor, maka longsoran itu hanya akan menimpa dibawahnya. Karena masih ada sungai dan jurang. Akan tetapi kejadian ini bukan longsornya gunung. Antara dukuh Legetang dan gunung Pengamun-amun terdapat sungai dan jurang, yang sampai sekarang masih ada. Sebetulnya jarak antara gunung dan desa itu jauh, sehingga sulit diterima akal bahwa tanah longsor itu bisa menimpa desa. Jadi, tanah itu seolah-olah terbang dari gunung, dan menimpa desa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar